Dibuka Pendaftaran CPNS Lingkup MA, Ini Kritikan Sarjana Hukum Lulusan UMI
Amien Sanibia 29 September 2017

DI TENGAH perdebatan berkepanjangan status jabatan hakim sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataukah pejabat negara. isi:

<p>Anomali Perekrutan Calon Hakim</p> <p>Oleh: Damang SH MH.<br /> Alumni PPs Hukum UMI</p> <p>DI TENGAH perdebatan berkepanjangan status jabatan hakim sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataukah pejabat negara.</p> <p>Akhirnya pemerintah memutuskan untuk melakukan perekrutan calon-calon hakim (cakim) melalui jalur CPNS.</p> <p>Usai pembukaan pendaftaran secara online calon hakim (candidatues iudices) selama hampir sebulan penuh kemarin (1 - 27 Agustus 2017), kini berdasarkan pengumuman yang disampaikan Panitia Seleksi (Pansel) CPNS pada Mahkamah Agung (MA) menyatakan bahwa yang lolos seleksi administrasi sebanyak 25.357 peserta dari 30.715 pendaftar.</p> <p>Adapun perincian dari jumlah peserta yang dinyatakan lulus administrasi tersebut yaitu: 17.369 peserta dari formasi pengadilan umum; 5.452 peserta dari pengadilan agama; 1.036 peserta dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Sebanyak 11 peserta pilihan formasinya tidak terekam.</p> <p>Khusus formasi lulusan terbaik, sebanyak 1.135 peserta dari formasi pengadilan umum; 217 peserta dari pengadilan agama; 51 peserta dari pengadilan TUN; dan sebanyak 1 peserta pilihan formasinya tidak terekam.</p> <p>Sementara formasi putra/putri Papua dan Papua Barat sebanyak 72 peserta pengadilan umum; 11 peserta pengadilan agama; dan 2 peserta PTUN.</p> <p>Anomali Cakim<br /> Tingginya angka pendaftar calon hakim 2017 seolah membuka mata dan telinga kita semua bahwa disaat kredibilitas hakim di negeri yang semakin jatuh di titik nadir, animo untuk memegang amanat keadilan dan titah Tuhan di muka bumi tiadalah pernah surut.</p> <p>Tetap ada ribuan anak manusia, ialah generasi keadilan yang mau mengadu kompetensi dan integritas di hadapan Panitia Seleksi.</p> <p>Tak tanggung-tanggung, karena kuantitas cadidatues iudices melebihi ekspektasi dari kuota yang disediakan (1648 orang), maka tahapan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) pun digelar dalam waktu 5 hari bagi semua candidatues yang telah dinyatakan lulus seleksi administrasi (18 &ndash; 22 September 2017).</p> <p><br /> Welcome candidatue iudices, semoga ritual ini bukan ajang sekedar coba-coba. Sebab malang nian nasib para justiciable andaikata kalian yang diharapkan menjadi pemegang pedang sang &ldquo;dewi themis&rdquo; berharap kelak pada profesi hakim, sekadar untuk memperbaiki nasib saja.</p> <p>Itulah cobaan pertama atau peringatan dini yang harus kembali ditanya pada diri sendiri, kalau hanya soal nasib dan status kehormatan yang diburuh, pintu penyuapan dan langgengnya para mafia hukum akan menghantam pusaran jubahmu di masa mendatang.</p> <p>Ada baiknya kalau anda berada digolongan ini, mundurlah secara terhormat, sebab memang anda tak layak menjadi pemegang palu keadilan abadi itu.</p> <p>Syak wasangka di luar sana, saya hanya bisa tertawa melihat segerombolan anak manusia dengan mengandalkan gelar sarjana hukum dan ijazah di tangan, begitu pongahnya membeberkan kalau dirinya sedang mendaftar sebagai candidatue iudices.</p> <p>Beliau begitu bangga mengumumkan kepada banyak kerumunan, ia lulusan Cumlaude, makanya ia mendaftar melalui formasi lulusan terbaik.</p> <p>Ingatlah wahai manusia yang merasa memiliki kuasa dengan selembar ijazah. Lembaran itu sungguh tak ada maknanya disaat kita tidak pernah melihat diri mengasah kecakapan dalam memecahkan isu-isu hukum aktual.</p> <p>Di dunia ini terlalu banyak orang percaya diri hanya dengan mengandalkan peruntungan nasib jatuh kepadanya.</p> <p>Sementara untuk menjadi yuris handal, tiadalah pernah memiliki kesadaran untuk membaca literatur hukum dalam jumlah yang banyak. Tanyalah pada diri anda, sudah berapa judul buku bertemakan ilmu hukum yang telah habis dibaca.</p> <p>Kadang begitu disodorkan buku dalam bidangnya sendiri, karena halamannya begitu ribuan banyaknya, dengan tanpa rasa bersalah mengatakan aku malas membacanya.</p> <p>Singkirkanlah orang-orang malas yang demikian, mereka adalah candidatues anomaly yang akan membuat sang &ldquo;dewi themis&rdquo; makin durjana. Buku tebal saja malas dibaca, apalagi disuruh membuat putusan pengadilan yang halamannya bisa menelan ketebalan.</p> <p><br /> Saya menyebut mereka yang bersifat malas itu, adalah siluman yang harus disingkirkan sebelum mereka masuk mengotori bersihnya budi dan ketulusan para wakil Tuhan yang sedang bersemayam di muka bumi ini.</p> <p>Sapu Kotor<br /> Teringat saya dengan mendiang almarhum Prof. Achmad Ali yang disela-sela kuliahnya mengutip pernyataan Donald Black yang mengatakan &ldquo;bagaimana mungkin membersihkan lantai yang kotor kalau sapunya masih kotor.&rdquo;</p> <p>Pameo tersebut kiranya tepat untuk dijadikan pegangan dalam perekrutan candidatues iudices di tahun ini.</p> <p>Bukan hanya sapu yang kotor menjadi penggadaian dari para candidatues, namun sapu itu bahkan tak layak untuk digunakan, sebab gagang dan ijuknya memang tidak ada.</p> <p>Terdapat calon-calon hakim yang sudah lulus seleksi administrasi, tetapi gagang dan ijuk mereka tidak punya. Itu karena tidak pernah mengasah kemampuan nalar dan logika dalam memecahkan kasus-kasus hukum in concreto.</p> <p>Kredibiltas justitia kini berada dipundak para &ldquo;produksi sapu&rdquo; itu.</p> <p>Jika pabriknya saja masih kotor, sapu-sapu yang kotor pasti akan memenuhi pasaran keadilan.</p> <p>Pada akhirnya kita hanya bisa mengelus dada kala menyaksikan hukum menjadi barang dagangan, keadilan hanya dagelan dari orang yang sok merasa suci, sedang duduk, di hadapannya terdapat meja hijau, lalu menuangkan &ldquo;arak&rdquo; dari cawannya.</p> <p>Mereka mabuk, kita semua mabuk, dan kita semua sudah lupa dengan pameo yang begitu sakral: &ldquo;fiat justitia pareat mundus.&rdquo; Itulah anomali&hellip;!!!</p> <p>Catatan: Tulisan ini telah terbit di halaman Opini Tribun Timur edisi cetak Senin, 25 September 2017 dengan judul Anomali Perekrutan Calon Hakim.</p>

Berita Terbaru